Game Aksi Heist Alt-History Thick As Thieves: Kota Kilcairn Jadi Arena Pencuri Modern

 

Game Aksi Heist Alt-History Thick As Thieves: Dari PvP ke Co-op, Mencuri Tanpa Harus Jadi Tukang Rusuh



Di tengah industri game yang makin sering menjual aksi cepat, ledakan besar, dan karakter yang bisa menghabisi satu markas musuh sendirian, tiba-tiba muncul satu game yang bilang, “Santai dulu, bro. Di sini lari terlalu cepat justru bisa bikin kamu celaka.” Namanya game aksi heist alt-history Thick As Thieves, proyek stealth terbaru dari OtherSide Entertainment.

Game ini langsung menarik perhatian karena membawa nama Warren Spector, sosok penting di balik tradisi immersive sim seperti Deus Ex dan Thief. Thick As Thieves awalnya diperkenalkan sebagai game multiplayer heist PvPvE, tetapi kemudian berubah arah menjadi game stealth yang bisa dimainkan solo atau co-op dua pemain. Steam dan Epic Games Store sama-sama mendeskripsikan game ini sebagai stealth-action heist yang dapat dimainkan sendiri atau bersama partner dalam mode co-op.

Yang bikin ramai, perubahan ini bukan sekadar update kecil. Dari konsep “bersaing melawan pencuri lain”, Thick As Thieves kini lebih fokus pada mencuri dengan sabar, membaca peta, memanfaatkan bayangan, dan kabur tanpa bikin satu kota panik. Buat kamu yang suka update game unik, cek berita viral paling update di POKEMONMANIA, karena kadang game paling menarik bukan yang paling berisik, tapi yang paling pintar bikin kita deg-degan diam-diam.

Kenapa Game Aksi Heist Alt-History Thick As Thieves Bisa Viral?



Alasan pertama jelas: nama besar di belakangnya. Warren Spector bukan nama sembarangan di dunia game. Ia dikenal lewat karya yang mengutamakan pilihan pemain, dunia yang interaktif, dan gameplay yang tidak selalu memaksa kita menyelesaikan masalah dengan kekerasan. OtherSide Entertainment juga membawa warisan kuat dari genre stealth dan immersive sim.

Alasan kedua, konsepnya beda. Thick As Thieves bukan sekadar game “masuk rumah orang, ambil barang, keluar”. Game ini memakai setting sejarah alternatif di kota Kilcairn, versi imajinatif dari Edinburgh pada era 1910-an. Dunia ini memadukan teknologi awal abad ke-20 dengan sihir peri kuno yang dipakai manusia sebagai alat.

Jadi, bayangkan suasana kota tua, penjaga patroli, alat keamanan ajaib, pencuri dengan gadget unik, dan misi yang menuntut otak bekerja lebih dulu daripada jempol. Ini bukan game yang cocok buat pemain yang maunya gas terus seperti sedang telat masuk sekolah.

Alasan ketiga, perubahan dari PvPvE ke solo dan co-op memancing debat. Sebagian pemain mungkin kecewa karena ingin adu strategi melawan pencuri lain. Tapi banyak juga yang merasa keputusan ini justru membuat game lebih fokus pada inti stealth.

Dari PvPvE ke Solo dan Co-op: Perubahan Besar yang Masuk Akal

Awalnya, Thick As Thieves digadang-gadang sebagai game PvPvE. Artinya, pemain bukan hanya menghadapi penjaga dan sistem keamanan, tapi juga pencuri lain yang mengejar loot yang sama.

Secara teori, konsep ini terdengar seru. Ada ketegangan, ada persaingan, ada momen saling intip dari bayangan. Tapi dalam praktiknya, elemen kompetitif bisa membuat game berubah arah. Alih-alih menjadi pengalaman stealth yang penuh siasat, pemain bisa saja malah terpancing untuk bertarung langsung.

OtherSide kemudian mengubah fokusnya menjadi single-player dan two-player co-op. Gematsu melaporkan perubahan ini diumumkan pada awal April 2026, dengan fokus baru pada permainan solo dan kooperatif dua pemain.

Menurut informasi dari bahan artikel, direktur game Jeff Hickman menjelaskan bahwa hasil feedback pemain menunjukkan solo dan terutama co-op menjadi titik tengah terbaik. Bukan hanya lebih seru secara gameplay, tapi juga lebih mudah menjangkau audiens luas.

Dan jujur saja, untuk game stealth, keputusan ini terdengar logis. Karena begitu pemain lain masuk sebagai musuh utama, permainan bisa berubah menjadi lomba panik. Padahal Thick As Thieves ingin membuat pemain merasa seperti pencuri licik, bukan petarung jalanan yang salah masuk genre.

Game Ini Bukan Tentang Berantem, Tapi Tentang Mengakali Sistem



Satu hal yang menarik dari game aksi heist alt-history Thick As Thieves adalah filosofi gameplay-nya. Game ini tidak ingin pemain menjadi jagoan yang mengalahkan semua penjaga.

Intinya adalah menghindari, mengalihkan, menyelinap, dan membaca situasi.

Dalam bahan artikel, disebutkan bahwa satu-satunya bentuk kontak fisik langsung yang tersedia adalah melumpuhkan penjaga dari belakang, dan efeknya pun hanya sementara. Penjaga bisa sadar lagi. Jadi kamu tidak bisa sembarangan “membersihkan” area lalu jalan santai seperti pemilik gedung.

Alat-alat yang tersedia juga lebih banyak dipakai untuk bergerak atau mengalihkan perhatian. Misalnya, ada perlengkapan unik seperti Insult Fairy, semacam mulut bergigi dengan sayap yang bisa dilempar untuk mengejek dan menarik perhatian penjaga.

Ini lucu sekaligus kreatif. Biasanya alat distraksi dalam game berupa batu, botol, atau peluit. Di sini? Peri kecil yang kerjaannya menghina. Kalau ini ada di dunia nyata, mungkin tingkat stres penjaga langsung naik 200 persen.

Jangan Lari, Karena Lari Itu Berisik

Salah satu detail paling menarik dari Thick As Thieves adalah cara game ini menghukum pemain yang terlalu terburu-buru.

Jeff Hickman menekankan bahwa pemain tidak seharusnya berlari. Berlari cepat membuat suara keras. Kalau kamu sprint untuk menghindari satu penjaga, bisa saja penjaga lain mendengar dan ikut mengejar. Efek domino seperti ini bisa mengubah misi yang awalnya rapi menjadi kacau dalam hitungan detik.

Ini membuat game terasa lebih taktis. Kamu harus berpikir sebelum bergerak. Apakah aman lewat lorong ini? Apakah penjaga sedang melihat ke arahmu? Apakah ada alat keamanan ajaib yang memindai area?

Tekanan waktu tetap ada. Setiap pertandingan berlangsung maksimal 45 menit. Setelah mendapatkan harta target, pemain punya delapan menit untuk keluar dari peta. Dalam co-op, kamu dan partner harus sama-sama berhasil kabur.

Di sinilah ketegangannya muncul. Kamu ingin cepat keluar, tapi kalau terlalu cepat, suara langkahmu bisa mengundang masalah. Ini seperti disuruh buru-buru, tapi lantainya penuh kerupuk. Salah langkah, semua orang tahu.

Kilcairn: Edinburgh Versi Sejarah Alternatif yang Penuh Sihir

Dunia Thick As Thieves mengambil tempat di Kilcairn, kota fiksi yang terinspirasi dari Edinburgh dalam versi sejarah alternatif. Setting-nya berada di era 1910-an, ketika teknologi awal abad bertemu dengan sihir peri kuno.

Ini bukan sihir ala penyihir dengan tongkat dan mantra panjang. Dalam bahan artikel, Hickman menjelaskan bahwa sihir di dunia ini berasal dari sumber lama yang kemudian dipakai manusia sebagai alat. Hasilnya adalah dunia yang terasa unik: bukan full fantasy, bukan full steampunk, tapi campuran licik keduanya.

Pemain akan menemukan alat keamanan seperti mata penjaga ajaib yang melayang dan memancarkan sinar ungu untuk mencari penyusup. Di sisi lain, pemain juga bisa memakai gadget aneh untuk membantu pencurian.

Lore dunia ini juga cukup menarik. Disebutkan bahwa dalam sejarah alternatif Thick As Thieves, Kerajaan Aztec masih ada karena sihir mereka sangat kuat sehingga mampu mengusir penakluk Spanyol. Inggris menjadi dunia yang sangat magis, sementara Jerman anti-sihir.

Detail seperti ini membuat Kilcairn terasa lebih dari sekadar latar peta. Ada politik, sejarah, dan konflik dunia yang pelan-pelan muncul lewat kontrak dan misi.

Karakter Pencuri: Spider dan Chameleon

Saat memulai game, pemain akan bermain sebagai Spider. Karakter ini punya kemampuan Zipwire yang membantunya mencapai tempat tinggi. Dari deskripsi ini saja, Spider terdengar cocok untuk pemain yang suka mencari jalur alternatif, naik ke area tersembunyi, dan mengintai dari posisi aman.

Kemudian ada Chameleon, karakter yang bisa dibuka. Kemampuan Glamour miliknya memungkinkan ia menyamar sebagai NPC lain. Ini jelas menarik untuk gameplay stealth, karena membuka pendekatan yang lebih sosial dan penuh tipu daya.

Dua karakter ini menunjukkan bahwa Thick As Thieves ingin memberi variasi gaya bermain. Ada pencuri yang lebih fokus pada mobilitas, ada yang lebih kuat dalam manipulasi identitas.

Dalam co-op, kombinasi seperti ini bisa jadi sangat seru. Satu pemain mengawasi dari tempat tinggi, satu lagi menyusup dengan penyamaran. Kalau komunikasinya bagus, misi bisa terasa seperti film heist. Kalau komunikasinya kacau, ya minimal jadi konten lucu untuk diceritakan di grup chat.

Konten Peluncuran: Murah, Tapi Bukan Kosongan

Salah satu hal paling mencuri perhatian adalah harga peluncurannya. Thick As Thieves direncanakan hadir dengan harga perkenalan 4,99 dolar AS. Steam mencantumkan tanggal rilis PC pada 20 Mei 2026, sementara beberapa laporan menyebut harga murah ini sebagai bagian dari strategi memperkenalkan game ke pemain.

Harga ini tidak biasa untuk game dengan produksi serius. Tapi Hickman menegaskan bahwa ini bukan early access dan bukan live service dengan transaksi mikro. FRVR melaporkan bahwa Hickman menyebut harga rendah ini dirancang agar pemain merasa mendapat nilai yang layak, sekaligus memberi ruang bagi feedback untuk masa depan game.

Konten awalnya juga cukup padat. Dari bahan artikel, kampanye peluncuran berisi 16 misi kontrak, dua peta besar yaitu Constables’ Guildhall dan Elway Manor, dua karakter yang bisa dimainkan, serta enam perlengkapan yang dapat dibuka.

Durasi kampanye diperkirakan sekitar empat jam, tetapi replayability menjadi fokus besar. Ada level pemain sampai 25, tingkat kesulitan yang meningkat, layout penjaga yang berubah, sistem keamanan yang makin rumit, dan variasi kondisi misi.

Dengan kata lain, ini bukan game yang selesai sekali lalu langsung dilupakan. Setiap misi bisa terasa berbeda, terutama saat naik dari Novice ke Thief dan Master Thief.

Jenis Misi: Brankas, Loot, dan Komponen Target

Thick As Thieves menghadirkan tiga jenis misi utama dalam kontrak peluncuran.

Pertama, misi perampokan brankas. Pemain harus mencari tahu brankas mana yang menyimpan target dan bagaimana cara membukanya. Ini membuat eksplorasi dan membaca petunjuk jadi penting.

Kedua, misi mengumpulkan harta sebanyak mungkin hingga mencapai nilai target. Pada tingkat Novice, ini mungkin terasa cukup ringan. Tapi di tingkat lebih tinggi, jumlah loot yang dibutuhkan semakin besar, sehingga pemain harus benar-benar menjelajahi level.

Ketiga, misi mengumpulkan dan menggabungkan beberapa komponen menjadi item target sebelum kabur.

Ketiga tipe ini terdengar sederhana, tapi karena elemen random dan perubahan layout, setiap misi bisa punya dinamika berbeda. Ada penjaga yang berpindah, dinding yang muncul, jendela yang dipalang, dan sistem keamanan yang membuat rute lama tidak selalu aman.

Ini penting untuk game stealth. Karena kalau semua pola terlalu mudah dihafal, pemain akan cepat menemukan rute speedrun. Padahal sekali lagi, Thick As Thieves seperti ingin berbisik: jangan lari, mikir dulu.

Penutup: Game Aksi Heist Alt-History Thick As Thieves Bisa Jadi Angin Segar Genre Stealth

Game aksi heist alt-history Thick As Thieves terlihat seperti proyek yang berani mengambil jalur berbeda. Saat banyak game mengejar aksi cepat dan kompetisi agresif, game ini justru mengajak pemain untuk bergerak pelan, mengamati, bekerja sama, dan menikmati seni mencuri dalam bayangan.

Perubahan dari PvPvE ke solo dan co-op mungkin terasa besar, tapi justru bisa membuat identitas game ini lebih kuat. Thick As Thieves bukan tentang siapa paling jago mengalahkan pemain lain. Ini tentang siapa paling pintar membaca situasi, memakai alat, dan kabur sebelum semua penjaga sadar barang berharganya hilang.

Dengan harga perkenalan yang sangat rendah, 16 misi, dua peta, karakter unik, dan dunia Kilcairn yang penuh sejarah alternatif, game ini punya potensi jadi kejutan menarik bagi pencinta stealth.

Tentu, masa depannya masih bergantung pada respons pemain. OtherSide tampaknya ingin mendengar feedback sebelum menentukan langkah berikutnya. Tapi untuk sekarang, Thick As Thieves sudah punya modal kuat: konsep unik, tim berpengalaman, dan identitas yang jelas.

Buat kamu yang suka game stealth, heist, co-op, dan dunia alternatif yang tidak biasa, game aksi heist alt-history Thick As Thieves layak masuk daftar pantauan. Cek berita viral paling update di POKEMONMANIA untuk update game baru lainnya, karena dunia gaming selalu punya kejutan—kadang datang dari ledakan besar, kadang dari pencuri yang sukses kabur tanpa terdengar satu langkah pun.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tren Industri Gaming 2026: Teknologi Baru yang Bikin Game Terasa Nyata

Set Baru Pokémon TCG Ledakan Peniada Resmi Rilis, Ini Fakta Menariknya!

ENC 2026 Debut di Riyadh, Indonesia Siap Tunjukkan Kekuatan Esports!